Hiii guyss..... selamat datang di artikel pertama di blog ku... disini aku bakalan ngeshare pengalaman aku menaklukan puncak gunung Batur nii,, sebelumnya kenalin namaku Surya, namanya emang kayak nama cowok, tapi aku ini cewek yaaa. oh iya, sebenernya aku buat blog sih karena buat nyalanin tugas dari guru di sekolah. awalnya aku bingung mau buat apa, akhirnya aku kepikiran deh untuk buat blog tentang mendaki. yaudah biar gak kelamaan mending langsung aja kita baca artikel berikut ini... selamat membaca :)
Pengalaman hiking seru ke Gunung Batur, Kintamani! Entah kenapa setiap perjalanan saya yang seru dan menyenangkan adalah perjalanan dengan rencana yang tidak terduga dan mendadak seperti perjalanan beberapa bulan lalu tanggal 17 Agustus 2018. Enggak ada petir, enggak ada awan, dan hujan, yang ada cuman ceplosan ide gila dari mulut.
“Nyen milu medaki Gunung Batur bin telun?” ceplos seorang kakak kelas yang udah biasa diajak ngumpul bareng. Memang sih, kalau liburan ke Bali itu memang paling pas kalau buat mendaki gunung.
Dan, kemudian saya balik bertanya.
“Jak nyen gen bareng?
“Nah kumpulan malu anggota ne, yen be sip ajak gass!"
Puncak Gunung Batur
Dan Perjalanan Seru Mendaki Gunung Batur Dimulai!!
Sempat terjadi perdebatan kecil tentang siapa saja yang bakal ikut, karena waktu itu saya sempat tidak dizinkan pergi oleh orang tua saya, tapi dengan berbagai rayuan maut (aetttt) akhirnnya saya diizinkan ikut mendaki. mendaki merupakan suatu hal yang baru bagiku, sebelumnya aku memeang sudah pernah mendaki gunung tapi enggak sampai di puncak utama, tapi di pendakian kedua ini aku bertekad untuk mencapai puncak utama gunung Batur.
Lava Hasil Letusan Gunung Batur terlihat dari atas
Disamping sejarah letusan yang cukup mengerikan, Gunung Batur menyimpan sejuta pesona keindahan. Tidak hanya wisata hiking untuk penikmat adventure seperti saya, tetapi juga air panas alami Toya Bungkah yang bisa saya nikmati sambil melihat pemandangan Danau Batur setelah kecapekan mendaki.
Setelah persiapan selesai, 13 orang pendaki dadakan berangkat dari Ubud jam 19.00 malam, dengan perlengkapan seadanya dan mantel sebagai teman perjalanan yang diiringi dengan hujan deras sedari siang sampai malam. Perjalanan ke Kintamani memakan waktu kurang lebih 1 jam, dengan 7 kuda besi dan 13 orang pendaki dadakan yang penuh semangat menembus kegelapan malam menuju daerah Batur, Kintamani. Sepanjang perjalanan terasa sepi, karena memang waktu sudah sangat larut, hanya sesekali kami berpapasan kendaraan bermotor dari arah yang berlawanan.
Udara selama perjalanan cukup dingin dan sedikit berkabut ketika semakin mendekati Kintamani. Sekitar jam 19.30 am WITA, kami sampai di daerah di Kintamani, dan beristirahat di titik Panelokan. Panelokan merupakan titik dimana kita bisa menikmati view Gunung Batur, dan Danau Batur secara bersamaan ketika siang hari.
Gunung Agung dari puncak Gunung Batur
Pos pendakian yang asli ternyata berada di dekat Pura Jati Toya Bungkah. Untuk mendaki ke Gunung Batur ditarik retribusi pendakian sebesar Rp.10.000 per orang. Jadi untuk 13 orang totalnya Rp. 130.000,. Selain itu kami juga ditawari guide untuk menemani pendakian dengan harga 50 ribu per/orang. Untuk 13 orang totalnya Rp 650.000,. Sebenarnya cukup murah, tapi dasar rencana dadakan, uang cash pun cuma bawa sedikit, jadi terpaksa pede bilang sudah tahu jalurnya meskipun sebenernya gak tahu. Gampang lah, kita lihat saja perjalanan SERU ini terbawa nasib :D.
Perjalanan buta arah kedua pun dilanjutkan,waktu menunjukkan jam 03.00, kami bertemu penduduk lokal baik hati yang rumahnya berada di lereng Gunung Batur. Kami pun diberitahu jalur untuk mendaki ke puncak, bahkan sedikit ngobrol dengan mereka ketika perjalanan kami masih sejalur. Mereka ternyata bekerja sebagai pencari batu di area Gunung Batur ini.
Berfoto di Gunung Batur
Sampai pada jalur menuju puncak Gunung Batur, kami berpisah dengan mereka dan melanjutkan perjalanan kami yang tanpa arah lagi :D. Kali ini lagi – lagi keberuntungan berpihak pada kami, dari kejauhan terlihat rombongan yang akan mendaki ke puncak Gunung Batur. Sehingga kami pun mengikuti mereka dari belakang, lumayankan? Guide gratissss! Hehehe :D.
Permasalahan arah dan jalur sudah tidak terlalu berarti, yang ada sekarang hanya penerangan yang seadanya (hp, senter lowbat), plus jalur mendaki yang penuh bebatuan. Otomatis kami perlu ekstra hati – hati, apalagi salah satu teman saya hanya mengenakan sendal jepit joger. GILA! dia memang gila, bahkan lebih gila dari saya.
Beberapa kali grup kami di lewat oleh grup bule yang juga mendaki ke puncak Gunung Batur. Saking seringnya dilewati saya hanya bergumam “dasar bule makan apa mereka? Kok bisa cepet gitu”. Mungkin juga karena faktor tersesat tadi cukup menguras tenaga kami, jadinya kami berjalan agak lamban.
Puncak Gunung Batur
Bebera saat mendaki, tanpa sadar ternyata langit sudah mulai cerah, yang berarti sunrise pun semakin dekat. Saya memepercepat pace pendakian agar bisa sampai puncak sebelum sunrise, dan hasilnya kaki saya kram kanan dan kiri. Namun akhirnya tetap sampai puncak tepat pada waktu sunrise. Rasa capek pun hilang seketika terbayar dengan indahnya pemandangan dari puncak Gunung Batur.
Satu yang unik di puncak Gunung Batur ini, yaitu ada warung yang menjual makanan berupa mie rebus, nasi dan telor. Meski harganya yang kurang manusiawi menurut saya. Harga mie rebus per porsi Rp. 15.000, kalau beli di supermarket bisa dapat sepuluh biji itu! Tetapi bagaimana lagi, setelah berjalan kaki beberapa jam, cacing di perut pun memberontak, mau tidak mau harus mengisi perut, dan saya memesan satu porsi mie + nasi total harganya Rp. 20.000. Sudahlah yang penting kenyang saja :D
Puas berfoto dan menikmati pemandangan dari puncak kami pun turun, dan baru terlihat kalau jalur pendakian kami tadi cukup seram. Terdapat banyak batu yang bisa longsor kapan saja. Tetapi tetap saja kami turun dengan santai karena ternyata perjalanan turun tidak sesulit jalur mendaki. Waktu turun malah terasa lebih cepat, atau sebenarnya memang ingin turun lebih cepat dan segera merasakan nyamannya berendam di air panas Toya Bungkah. Namun sebelum itu tidak lupa berfoto di starting poin pendakian, dimana Gunung Batur terlihat gagah dari kejauhan nah sekian dulu ya guyss,, nanti kita kembali lagi di artikel selanjutnyaaa byebye.........
Mantap kakk
BalasHapusAmazing sekali artikelnya kakak 👍
BalasHapusPingin naik tpi takutt
BalasHapustakut kak haha
BalasHapusMantap sekaliii👍🏻
BalasHapusReg gunung agung
BalasHapusanak pramuka ya kakk
BalasHapusKapan" ama kak ros kesane
BalasHapusAsyikk
BalasHapusbagus
BalasHapusNtav kak ros
BalasHapusKeren
BalasHapusWihhh👍
BalasHapusNicee
BalasHapusWihh bagus
BalasHapusMntavvv yaaa
BalasHapusWisss mantul ni
BalasHapusPinginn
BalasHapusMantul kak
BalasHapusMantap kak
BalasHapusPengen mendaki dehh
BalasHapusmantap
BalasHapusMakasih infonya
BalasHapusNtavv kak
BalasHapusTentang Menaklukkan hatinya kak
BalasHapusBagusss
BalasHapusMantappp
BalasHapusKerennn
BalasHapusGood
BalasHapusGood
BalasHapusMantul !
BalasHapusBolelaaa
BalasHapusKereeeeeeen
BalasHapusWawww
BalasHapusGood
BalasHapusGood job girl
BalasHapusMantap
BalasHapusWoww
BalasHapusMantap kakak
BalasHapusMantapppp
BalasHapusSeru sekali kak
BalasHapusReferensi bagus nih
BalasHapusIh keren yang pakek hoodie abu tu
BalasHapusBagus
BalasHapusMantap!!!
BalasHapusWow
BalasHapus